So here I am, back to Indonesia, my homeland.
Local coordinator saya pernah berkata ketika departure orientation cluster saya bahwa reverse culture shock ke Negara asal itu lebih sulit untuk dilalui dibandingkan dengan culture shock ketika kedatangan saya ke amerika, dan hal tersebut pun kembali diulang ketika saya menjalani orientasi terakhir di Washington DC, literary they made special session just for “dealing with reverse culture shock” . at that time, honestly, I was like “ what is so hard about going back home anyway? I know Im sad about leaving my hostfamily and stuff, but I think readjust again gonna be really easy as heck”
But, damn, i was WRONG.
Selama perjalanan dari Washington-Germany-Singapore –Jakarta I was all excited about got to meet my parents and tell em my amazing adventure for past one year, but before I met them, ketika saya landing di Jakarta saya harus melalui bagian imigrasi dulu, dan disanalah saya mengalami reverse culture shock yang pertama. Jadi setelah saya sangat lelah melalui perjalanan pulang selama 2 hari penuh, transit di Frankfurt – Germany selama 10 jam dan melalui perjalanan kurang lebih selama 24 jam kembali ke tanah air, saya harus mengantri untuk mengurus dokumen saya di immigration section. Awalnya , I was like “ well okay, just 5 minutes waiting in line , get my luggage and im hella done” walaupun sangat ramai oleh orang-orang yang baru datang dari luar negeri , tapi antrian nya lumayan tertib, and its all good. Tapi itu gak berlangsung lama. Ditengah antrian, tiba – tiba seorang ibu dengan 1 orang anak nya , tanpa basa basi menyerobot antrian dari 3 orang di depan saya, dan mengantri seolah tidak ada apa- apa , UNBELIEVABLE !!!! don’t ask, yes I am beyond pissed off , saya colek dan saya bilang “ ibu bukan nya harus mengantri dari belakang?” and she made up all that clique excuse, like, “well im old enough to cut the line and im tired, so I deserved to do this” (Yes ma’am you ARE old, and I clearly notice your wrinkles ) dan saya bilang “ but ma’am..okay, nevermind (beeyatch)” dari sana saya sadar, it takes 2 dumb people to make an argument, so I just cut it out. I don’t wanna be a dumb bitch, like you know who.
Dan dari sanalah semua nya bermulai. Reverse culture shock itu tak mudah , kawan.
Begitu saya keluar dan menemui orang tua saya, temu kangen selama 15 menit , dan saya harus kembali dikarantina selama 3 hari untuk dipersiapkan dilepas ke masyarakat, I started to think : I think this things about reverse culture shock and preparation for going back to home are pretty serious. Dan itu memang terbukti benar . When im done with the orientation, I’m soooo pumped for culinary marathon and pay off what im missing for one year, its really exciting and fun, worthed for only- one week- break-before-school. Kadang kaget dengan beberapa hal yang saya lihat , dan yah lucu nya saya suka complained dan marah-marah sendiri. Seperti melihat betapa macet dan tidak teraturnya transportasi dimana-mana, sampah yang berserakan dengan bebas , attidude beberapa orang disini yang rude tapi kadang tidak mereka sadari , cuaca yang amat sangat panas dan diperburuk oleh polusi , acara tv yang SEMUANYA bikin gerah, dan baaaaanyak hal konyol lainnya yang terasa “what the hell is going on here” padahal dulu nya saya terbiasa dengan hal ini. Sedihnya saya merasa hanya bisa mengeluh tapi nyatanya saya tidak bisa merubah apapun,belum.. Tentu saja, berbekal semua itu , saya merasa memiliki banyak PR untuk berkontribusi membuat perubahan di tanah air ini, mulai dari sekarang dan kedepannya, untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara yang lebih baik, karena ia belum usai.
Its really hard, friggin hard, nuff said.
Its major hard for me to went through this period, I experienced “a lot” emotional difficulties to dealing with this reverse culture shock , and sometimes my mom lost it, quiet didn’t understand me . She mad at me because she thought I just don’t want to adjusting, well I want to , but it take time , its just hard when you used to one thing that you frequently did and you should changed that custom in one snap , girl, hold on..is not that easy. Dan yah, sudah 3 minggu saya settled in , ketidaknyamanan saya tentu saja masih sedikit tersisa , tapi tidak seburuk dulu. Current problems yang menjadi masalah saya belakang ini mengenai sekolah dan berelasi dengan orang dan sahabat lama, I will passed it good, perhaps.




0 komentar:
Posting Komentar